Minggu, 14 Desember 2014

Ringkasan Jurnal : ANALISA KELAYAKAN INVESTASI PERBAIKAN SARANA PRODUKSI PADA HOME INDUSTRI KERUPUK BAWANG

Judul : ANALISA KELAYAKAN INVESTASI PERBAIKAN SARANA PRODUKSI PADA HOME INDUSTRI KERUPUK BAWANG
Penulis : Herdiana Dyah Susanti
Sumber : http://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/viewFile/641/664

ABSTRAK
Kerupuk bawang mempunyai keunikan yaitu adonan setengah matangnya yang kenyal dan sulit dipotong tipis-tipis,hasil potongan bisa bagus hanya dengan menggunakan slicer. Para pelaku home industry banyak yang mengeluh bahwa keuntungan hasil produksi mereka tidak dapat maksimal karena kendala proses pemotongan yang masih tradisional. Oleh karena itu perlu perbaikan sarana produksi pada proses tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi kerupuk bawang. Ditinjau dari aspek teknik juga dinilai layak karena output yang dihasilkan dengan menggunakan mesin potong yang baru lebih besar dari output menggunakan pisau konvensional.Output pisau konvensional = 60 Kg per hari dan mesin potong  kerupuk yang baru = 100 Kg per hari. Begitu juga dari aspek keuangan dinilai layak karena dengan mesin potong yang baru diperoleh NPV Rp. 514.604.751, IRR 65,88%, dan DPP 2 tahun 11 bulan. Penggantian  sarana produksi pada proses pemotongan layak karena jumlah penghasilan yang diperoleh lebih besar dibandingkan biaya untuk investasi program dengan ROI sebesar 1, 44.

PENDAHULUAN
Salah satu home industry yang saat ini terus berkembang dan persaingannya semakin ketat adalah home industry kerupuk, khususnya kerupuk bawang. Kerupuk bawang ini mempunyai keunikan yaitu adonan setengah matangnya yang kenyal dan sulit dipotong tipis-tipis, hasil potongan bisa bagus hanya dengan menggunakan slicer. UD. Kalirejo merupakan salah satu home industry yang hanya bisa menghasilkan 10 kg kerupuk bawang setiap harinya. Hal ini disebabkan proses pemotongan yang dilakukan di UD. Kalirejo masih menggunakan pisau tradisional sehingga memakan waktu lama. Kondisi ini menyebabkan output yang dihasilkan tidak bisa maksimal, biaya yang tinggi dan keuntungan yang dihasilkan juga tidak dapat maksimal.  Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan sarana produksi untuk peningkatan kapasitas produksi dan melakukan studi kelayakan dengan menganalisis aspek pasar, teknis, dan keuangan.

METODE
Tahapan penelitian dimulai dari melakukan studi kelayakan dari aspek pasar untuk mencari pasar potensial (PP) dan mencari pangsa pasar UD. Kalirejo. Penentuan pasar potensial bertujuan untuk memperoleh jumlah total kebutuhan pasar sasaran, sedangkan penentuan pangsa pasar UD. Kalirejo bertujuan untuk mengetahui sisa pasar potensial yang dapat menjadi peluang bagi UD. Kalirejo (Ibrahim, 1998). Selanjutnya memperbaiki proses produksi dengan dengan merancang mesin alternatif pemotong kerupuk yang baru. Berdasarkan usulan tersebut, melakukan studi kelayakan dari aspek teknik dengan menganalisa output yang dihasilkan dari mesin alternatif pemotong kerupuk dan pisau tangan konvensional dengan menggunakan metode time study (Wignyosoebroto, 1992

Setelah dilakukan studi kelayakan teknik maka dilanjutkan dengan studi kelayakan dari aspek ekonomi dengan membandingkan MARR dan IRR (Suad dan Suwarsono, 2000). Rate of Return merupakan tingkat perolehan dari suatu kegiatan ekonomi atau usaha yang digunakan untuk mengukur tingkat studi kelayakan suatu usaha. Ada beberapa rate of return yang dikenal, antara lain Internal Rate of Return (IRR), External Rate of Return (ERR) dan Explisit Reinvesment Rate of Return (ERRR). Dalam menganalisa kelayakan investasi proses yang sangat kecil kemungkinannya ada hubungan pihak luar perusahaan (misalnya: bank) dalam masalah pendanaan digunakan metode IRR. Metode IRR langsung mengambil perkiraan internal interest rate (i) dengan net cash flow yang umum atau memenuhi pada akhir umum proyek dan diinvestasikan kembali (dipinjamkan) diluar perusahaan. Umumnya semua cash outflow dihitung/dikonversikan ke periode 0 (awal proyek) juga pada bunga yang ditentukan (internal rate) sebesar i%. Sementara semua cash inflow dikonversikan ke periode n (akhir proyek) juga pada bunga sebesar i%. Selanjutnya dengan metode IRR akan ditentukan tingkat bunga (interest rate) di antara 2 jumlah equivalen dari cash outflow dan cash inflow yang memberikan tingkat bunga i% yang disebut sebagai IRR.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kapasitas UD. Kalirejo dengan Menggunakan Pisau Konvensional

Dalam proses produksi kerupuk di UD. Kalirejo, proses produksi yang paling lama dan membutuhkan banyak biaya adalah proses pemotongan dengan menggunakan pisau konvensional hal ini disebabkan karena adonan kerupuk yang setengah matang bersifat kenyal dan sulit dipotong tipis-tipis kecuali dengan menggunakan mesin slicer. Namun harga mesin slicer yang mahal sangat sulit untuk dijangkau oleh home industry kerupuk bawang. Berdasarkan waktu terlama maka output/hari UD. Kalirejo dengan menggunakan pisau konvensional adalah 60 kg per hari.

Peningkatan Kapasitas Produksi Kerupuk Bawang dengan Penggantian Sarana Produksi
Kapasitas pemotongan yang dimiliki alat pemotong krupuk diperoleh dengan memperhitungkan
putaran motor yang ada. Dengan menggunakan motor sebagai penggerak utama, maka akan diperoleh jumlah pemotongan dalam satu menit sebesar: 2 x 30 = 120 kali. Dalam satu jam diperoleh jumlah pemotongan sebesar: 60 x 60 = 3.600 kali. Jika dalam 1 kg kerupuk kering diasumsikan terdiri dari ± 200 potongan, maka kapasitas potong per jam adalah: (3.600/200) = 18 kg. Dengan menggunakan mesin potong yang baru maka kapasitas per hari UD. Kalirejo adalah 18 x 6 = 108 kg per hari. Jadi output kerupuk bawang dengan menggunakan pisau potong konvensional sebesar 60 Kg per hari dan output kerupuk bawang dengan menggunakan mesin potong kerupuk yang baru sebesar 100 Kg per hari karena kapasitas alat untuk memasak kerupuk hanya 100 Kg.

SIMPULAN
Berdasarkan aspek pasar, penggantian sarana produksi pada proses pemotongan di UD. Kalirejo dinilai layak karena dari data permintaan yang ada saat ini cenderung mengalami kenaikan yang signifikan. Berdasarkan aspek teknik, mesin potong kerupuk yang baru dinilai layak karena output yang dihasilkan dengan menggunakan mesin potong yang baru lebih besar dari output menggunakan pisau konvensional.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop