Selasa, 16 Desember 2014

Ringkasan Jurnal : DESAIN KEMASAN KARUNG YANG OPTIMAL UNTUK PENGEMAS BAHAN CURAH

Judul : DESAIN KEMASAN KARUNG YANG OPTIMAL UNTUK PENGEMAS BAHAN CURAH
Penulis : Lusi Zafriana
Fakultas Teknik Industri Universitas Kartini (UNKAR) Surabaya
Link Sumber : http://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/viewFile/570/590

ABSTRAK
Banyak material dalam jumlah besar seperti semen, garam, dan berbagai produk konsumsi primer menggunakan pengemasan tas plastik dari polypropylene. Karena ukuran pengemasan sangat bergantung pada kerapian jenis material, maka diperlukan optimalisasi desain dari ukuran ukuran tas plastik berdasarkan jenis material (kerapatan jumlah besar) dan bobot kerapian produk. Aplikasi algoritma matematik sederhana, di mana ukuran volume karung akan dirubah menjadi bobot jumlah material, maka optimisasi dari panjang dan lebar karung akan sesuai dengan berat jenis material yang diisikan ke dalam pengemasan dapat ditentukan. Menggunakan metode trial error, nilai l (lebar) dan p (panjang) tas plastik, maka dapat diperkirakan tas plastic dapat menampung material seberat m kilogram.

Kata Kunci: ukuran optimal, bobot isi, bobot curah

PENDAHULUAN
Bahan-bahan curah di sekitar kita, seperti beras, garam hingga bahan-bahan seperti semen, dan lainlain biasa dikemas dalam wadah karung plastik. Karung plastik ini biasanya dibuat dari bahan polipropilen, yaitu sejenis polimer yang tersusun atas monomer-monomer propilen. Karung dari bahan ini bisa dibuat dalam bentuk karung film ataupun karung woven (anyaman). Pada penelitian ini akan diungkap suatu cara untuk menghitung dimensi karung yang optimal disesuaikan dengan jenis bahan yang akan diisikan. Dalam hal ini bulk density dari bahan akan menjadi penentu dimensi tersebut. Dengan rumusan yang diperoleh maka penetapan ukuran karung untuk kemasan bahan curah tertentu, di mana selama ini belum diketahui ukuran karungnya, bisa dilakukan secara mudah dan cepat.

METODE
Dalam mendesain kemasan karung yang optimal, maka dibutuhkan rumus perhitungan dimensi karung. Yang menyebabkan penentuan dimensi karung menjadi sulit ialah karena karung hanya punya dua ukuran, yaitu lebar dan panjang saja. Tidak ada parameter tebal karung, sehingga volume karung tidak bisa dihitung dengan rumus volume biasa.

HASIL DAN PEMBAHASANSetelah V dan R dihitung, masih dibutuhkan bulk density bahan yang akan dikemas. Produsen karung perlu mengidentifikasi berapa kg berat satu liter bahan tersebut, sehingga: Bulk density, Bd = berat (kg) dari 1 liter bahan. Bulk density dalam kasus ini bisa dianalogkan dengan volume alat transpor material handling sebagaimana logika perhitungan Vosniakos (1989). Dengan rumus yang diperoleh, dicoba-coba nilai l dan p sedemikian sehingga karung akan mampu memuat bahan seberat m kg. Sebagai contoh, bila diinginkan mendisain karung untuk mengemas beras kering 20 kg dengan Bd ≈ 0,8 kg/liter, maka menggunakan Algoritma, di mana karung dengan lebar 43 cm dan panjang 75 cm cukup untuk mengemas beras 20 kg.

SIMPULAN
Dimensi karung (lebar dan panjang) yang sesuai sebagai pengemas suatu bahan dengan berat tertentu bisa ditentukan dengan perhitungan matematis dengan menghitung nilai volume bahan (p × l) yang akan dikemas dan disesuaikan dengan bulk density dari bahan yang dikemas untuk menentukan berat optimal yang bisa dimuat karung tersebut. Dengan perhitungan volume (p × l) yang dikonversikan pada ukuran berat maksimal yang bisa ditampung karung, maka desain kemasan karung yang dibuat akan mampu mengakomodasi volume maksimal tanpa merusak karung akibat beban berlebih.

Ringkasan Jurnal : ANALISIS PERBAIKAN KONDISI LINGKUNGAN KERJA TERHADAP BEBAN KERJA MENTAL

Judul: ANALISIS PERBAIKAN KONDISI LINGKUNGAN KERJATERHADAP BEBAN KERJA  MENTAL
Penulis : SRI RAHAYUNINGSIH
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kadiri
Link Sumber : http://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/view/2081

ABSTRAK
Kondisi lingkungan kerja yang baik akan menunjang pekerja dalam melakukan kerja yang maksimal. Faktor-faktor seperti temperatur, kebisingan, dan vibrasi dapat meningkatkan tekanan psikologis pekerja dan memengaruhi kinerja pekerja. PR Rezeki Abadi merupakan perusahaan rokok yang menggunakan tenaga manusia dalam menjalankan produksinya mulai dari proses pencampuran bahan–bahan dasar   (tembakau ,saos dan cengkeh) sampai dengan proses finishing. Berdasarkan hasil pengukuran, temperatur dan tingkat kebisingan pada bagian pencampuran lebih tinggi dari kondisi normal sehingga operator di bagian pencampuran merasakan beban psikologis yang tinggi dan sering melakukan kesalahan pada proses pencampuran.

Kata kunci: beban kerja mental, lingkungan kerja, pengukuran subjektif, SWAT 

PENDAHULUAN
Kondisi lingkungan kerja adalah semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja. Kondisi lingkungan kerja yang baik akan menunjang karyawan dalam melakukan kerja yang maksimal. Faktor-faktor seperti temperatur, kebisingan, vibrasi, dan ketenangan dapat secara langsung memengaruhi kinerja tugas ketika mereka bekerja, hal ini disebabkan beban tekanan psikologis pekerja yang meningkat. Beban Rahayuningsih: Analisis perbaikan kondisi lingkungan kerja 81 tekanan psikologis mengacu pada kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya kebingungan, frustasi yang terkait dengan kinerja tugas, sehingga membuat penyelesaian tugas menjadi lebih sulit untuk dilaksanakan (Purwaningsih dan Sugiyanto, 2007) Tekanan psikologis yang semakin tinggi akan menyebabkan beban kerja mental yang dirasakan oleh pekerja semakin meningkat.

METODE
Data-data yang dikumpulkan untuk menjawab permasalahan di bagian pencampuran PR Rezeki Abadi sebagai berikut:
a. Beban Kerja
 Beban kerja operator akan diukur dengan metode Subjective Workload Assessment Technique (SWAT), di mana operator diminta untuk mengurutkan kartu SWAT yang berjumlah 27 kartu berdasarkan subjektivitas mereka.
b. Kondisi Lingkungan Kerja
 Kondisi lingkungan kerja yang diamati adalah temperatur dan kebisingan, sehingga dilakukan pengukuran  untuk mengetahui kondisi lingkungan kerja di bagian pencampuran yang ada saat ini. Pengukuran temperatur dilakukan dengan menggunakan termometer dan kebisingan dengan menggunakan digital sound level meter.

HASIL DAN PEMBAHASAN
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL
Setelah dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja, beban kerja setiap operator mengalami penurunan dari kategori berat menjadi ringan pada kedua elemen pekerjaan yang ada. Pada elemen pekerjaan pencampuran komposisi tembakau, rata-rata skala beban kerja sebesar 76,733 pada kondisi awal lingkungan kerja dan sebesar 33,56 setelah dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja atau dengan kata lain terjadi penurunan beban kerja sebesar 76,29%. Elemen pekerjaan berikutnya di bagian pencampuran adalah pencampuran komposisi cengkeh. Hasil pengukuran beban kerja dengan metode SWAT memberikan skala sebesar 63,3 pada kondisi awal dan 26,56 setelah dilakukan perbaikan kerja atau dengan kata lain terjadi penurunan beban kerja sebesar 62,88%.

SIMPULAN
Kondisi lingkungan kerja menjadi lebih baik dan lebih nyaman dengan adanya penambahan blower dan penggunaan earplug (penutup telinga) sehingga dapat menurunkan beban kerja operator di bagian pencampuran tembakau PR Rezeki Abadi. Berdasarkan pengukuran beban kerja dengan metode SWAT, rata-rata beban kerja operator pencampuran tembakau sebelum dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja termasuk dalam kategori berat. Setelah dilakukan perbaikan kondisi lingkungan kerja, rata-rata skala beban kerja di bawah 40 sehingga beban kerja termasuk dalam kategori ringan.

Ringkasan Jurnal : ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN PERALATAN PRODUKSI TERHADAP KINERJA KARYAWAN

Judul : ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN PERALATAN PRODUKSI TERHADAP KINERJA KARYAWAN
Penulis : Heri Mujayin Kholik DAN Dimas Adji Krishna
Jurusan Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang
Link Sumber : http://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/viewFile/1185/1281

ABSTRAK
Penggunaan mesin dan alat kerja yang mendukung proses produksi berpotensi menimbulkan suara kebisingan. Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga mengganggu atau  membahayakan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh tingkat kebisingan terhadap kinerja karyawan.

Kata kunci: kebisingan, peralatan produksi, regresi linier sederhana, kinerja karyawan , regresi linier sederhana,
 
PENDAHULUAN
Alat kerja dan mesin-mesin yang digunakan pada aktivitas kerja berpotensi menimbulkan suara bising. Hal ini berdampak negatif terhadap para pekerja yang berada di area tersebut, yang mendengarkan kebisingan selama jam kerja berlangsung setiap harinya. Apabila tidak diperhatikan akan berdampak pada kesehatan para pekerja sehingga berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Mangkunegara (2000) menyatakan kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kualitas yang dimaksud adalah kehalusan, kebersihan dan ketelitian dari segi hasil pekerjaan. Sedangkan kuantitas diukur dari jumlah pekerjaan yang diselesaikan karyawan. Selain itu kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dari usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Sehingga kinerja tersebut merupakan hasil keterkaitan antara usaha, kemampuan dan deskripsi pekerjaan. Kinerja karyawan akan menurun apabila terganggu kesehatannya dan merasa tidak aman dalam bekerja.

METODE
Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung dan kuesioner kepada pekerja di beberapa titik sampling. Pengolahan data servasi langsung dan kuesioner kepada pekerja di beberapa titik sampling. Pengolahan data menggunakan ujI t test untuk mengetahui tingkat kebisingan dan analisis regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh tingkat kebisingan terhadap kinerja karyawan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kebisingan, kemudian dilakukan perhitungan dengan uji t untuk mengetahui tingkat kebisingan yang ada diperusahaan untuk dibandingkan dengan standar kebisingan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebesar 85 dB (A). Nilai rata-rata pada hasil pengolahan data menunjukkan bahwa rata-rata pengukuran kebisingan di area kerja Power Plant II sebesar 98,599 dB

SIMPULAN
Dari pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan uji t maka dapat ditarik kesimpulan bahwa level kebisingan di area kerja Power Plant II menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu sebesar 98,599 dB. Sedangkan NAB yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk area kerja (Industri) adalah sebesar 85 dB. Hasil analisis regresi menunjukkan diperoleh t hitung sebesar 10,227 lebih besar dibandingkan t tabel sebesar 2,013. Nilai signifikansi juga diperoleh t hitung sebesar 10,227 lebih besar dibandingkan t tabel sebesar 2,013. Nilai signifikansi juga sebesar 0 lebih kecil dibandingkan a sebesar 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa kebisingan di area kerja Power Plant II. Hasil ini menunjukkan bahwa kebisingan di area kerja Power Plant II berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.


Ringkasan Jurnal : ANALISA PERILAKU KONSUMEN DAN NILAI KOMIK JEPANG

Judul : ANALISA PERILAKU KONSUMEN DAN NILAI KOMIK JEPANG
Penulis : DJUDIYAH
Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
Link Sumber : http://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/viewFile/657/680


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menjelaskan motivasi dan macam-macam nilai dari Komik Jepang. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subyek pada penelitian adalah 35 siswa Sekolah Menengah Pertama di Malang, dimana digunakan teknik sampling insidental. Instrumen untuk mengumpulkan data adalah kuesioner. Metode analisa data adalah deskriptif kuantitatif. Hasil pertama dari penelitian ini adalah faktor motivasinya adalah kebutuhan sosial, kebutuhan egoistik, aktualisasi diri dan kebutuhan rasa aman. Kedua, nilai dari komik jepang adalah gambar dan bahasa yang digunakan dalam komik jepang mudah dimengerti, topiknya bervarias dan kebanyakan sama dengan budaya Indonesia dan kadang ceritanya lebih realistik dan harganya lebih murah dibanding komik Amerika.

Kata kunci: perilaku konsumen, nilai, komik jepang

PENDAHUUANNilai atau value juga merupakan aspek penting yang dapat membuat konsumen puas serta loyal atau
setia terhadap produk atau jasa. Nilai atau value diartikan sebagai selisih antara nilai pelanggan total dan biaya pelanggan total. Nilai pelanggan total merupakan sekumpulan manfaat yang diharapkan oleh pelanggan dari produk atau jasa tertentu. Biaya total pelanggan adalah sekumpulan biaya yang diharapkan oleh konsumen yang dikeluarkan untuk mengevaluasi, mendapatkan, menggunakan dan membuang produk atau jasa (Kotler, 2000). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produk atau jasa yang memberikan nilai lebih akan membuat konsumen puas dan dapat membuat konsumen loyal terhadap produk atau jasa. Salah satu alasan mengapa komik menjadi populer akhir-akhir ini adalah karena pengaruh TV (Johannsson dan Nonka, 1998). TV dianggap sebagai media gambar yang utama (Schiffman dan Kanuk, 2000) yang dapat berpengaruh pada perilaku konsumen. Acaraacara TV banyak menayangkan film-film kartun yang banyak digemari anak-anak maupun remaja, Misalnya Shinchan, Samurai X dan Spongebob. Cerita yang ada di film-film kartun ini juga banya kesamaan atau kemiripan dengan cerita-cerita yang ada di komik, khususnya komik Jepang sehingga anak-anak juga suka membaca komik Jepang. Menurut Polay, et al. (1996) ada beberapa alasan mengapa sensitivitas advertensi lebih berpengaruh pada anak-anak muda bila dibandingkan dengan orang dewasa, salah satu alasan tersebut adalah pembentukan identitas dan perhatian advertensi pada remaja adalah untuk membentuk identitas diri, yang menyebabkan remaja yang berumur belasan memperhatikan pengaruh advertensi dan peergroupnya terhadap cue yang berhubungan dengan simbol-simbol kedewasaan dan penerimaan orang lain. Remaja belasan juga lebih mampu menerima image yang romantis, sukses, mengagumkan, popular dan adventurir, dimana hal ini akan dicapai dengan cara mengkonsumsi rokok. Ditambahkan Loudon dan Bitta bahwa remaja belasan, banyak mengalami ketidak menentuan dan menyebabkan mereka ingin untuk menemukan indentitas dirinya. Mereka akan aktif mencari cue dari peernya dan dari advertensi sebelum mereka berperilaku. Mereka menjadi tertarik pada bermacam-macam produk yang dapat mengekspresikan kebutuhan mereka untuk eksperimen, belonging, independent, bertanggung jawab dan disukai orang lain (Solomon, 1999).

Editor komik PT. Indira Publishing yang mengungkapkan bahwa kehadiran komik-komik Jepang seperti: Doraemon, Kungfu Boy ataupu Sailor Moon ternyata mampu mengalihkan perhatian anak-anak dari komik asing lain seperti Tin-tin atau Lucky Luke (Republika, 24 Agustus, 1997). Anakanak menjadi lebih menyukai komik Jepang dari pada komik-komik asing lainnya. Demikian besar konsumen komik Jepang ini, sehingga sebuah majalah anak-anak yang cukup populerpun harus memuat komik Jepang agar laku (Kompas, 5 Pebruari 1998). Komik Jepang pada akhirnya merajalela. Setiap hari selalu ada saja pengunjung yang menekuni rak-rak komik di toko Buku Gramedia Malang yang nyaris semua berasal dari Jepang. Sementara banyak anak dan remaja lain yang dengan setia pergi ke perpustakaan atau taman-taman bacaan terdekat untuk membaca komik Jepang tersebut. Hal ini tidak saja terjadi di Indonesia, menurut Koh (1999) remaja
belasan di bangkok, Singapore, dan negara-negara lain banyak mengkoleksi komik Jepang. Kenyataan ini menimbulkan pentanyaan, mengapa anak-anak dan remaja sangat menyukai komik Jepang bila dibandingkan dengan komik yang berasal dari Eropa, Amerika maupun dari Indonesia sendiri (lokal).

METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui motivasi serta nilai (value) lebih yang dipersepsikan dan dirasakan oleh remaja ketika mereka menyewa, membaca, membeli ataupun mengkoleksi komik Jepang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SLTP yang menjadi pelanggan persewaan komik ”Tumapel Agency” di Singosari Malang. Sampel penelitian ini berjumlah 35 orang yang diambil dengan teknik Incidental Sampling. Metode pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. 

HASIL DAN PEMBAHASAN]
Hasil analisis data menemukan bahwa motivasi siswa mengkonsumsi komik Jepang adalah untuk memenuhi kebutuhan sosial (social needs). Hal ini sesuai dengan tugas perkembangan remaja adalah mampu menjalin hubungan interpersonal dengan orang-orang disekitarnya. Hubungan interpersonal ini merupakan sarana bagi remaja untuk menemukan jati diri atau identitas diri remaja (Hurlock, 1992). Komik dapat dijadikan topik pembicaraan yang sangat menarik bagi remaja, apalagi jika remaja memiliki kesamaan topik komik yang dibacanya. Hal ini akan membuat hubungan interpersonal diantara mereka akan semakin erat karena memiliki kesukaan yang sama (Feldman, 1999).

SIMPULAN
Perilaku siswa membaca komik Jepang dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan sosial atau kebutuhan untuk diterima oleh teman-temannya terutama peer groupnya, kebutuhan egoistik ata kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan, kebutuhan aktualisasi diri serta kebutuhan akan rasa aman dari teman-temannya. Value lebih yang dimiliki oleh komik Jepang adalah gambar maupun bahasa yang disajikan mudah di cerna. Topik yang ditawarkan lebih bervariasi dan tidak jauh berbeda dengan dogeng ataupun cerita yang ada di Indonesia.


Minggu, 14 Desember 2014

Ringkasan Jurnal : ANALISA KELAYAKAN INVESTASI PERBAIKAN SARANA PRODUKSI PADA HOME INDUSTRI KERUPUK BAWANG

Judul : ANALISA KELAYAKAN INVESTASI PERBAIKAN SARANA PRODUKSI PADA HOME INDUSTRI KERUPUK BAWANG
Penulis : Herdiana Dyah Susanti
Sumber : http://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/viewFile/641/664

ABSTRAK
Kerupuk bawang mempunyai keunikan yaitu adonan setengah matangnya yang kenyal dan sulit dipotong tipis-tipis,hasil potongan bisa bagus hanya dengan menggunakan slicer. Para pelaku home industry banyak yang mengeluh bahwa keuntungan hasil produksi mereka tidak dapat maksimal karena kendala proses pemotongan yang masih tradisional. Oleh karena itu perlu perbaikan sarana produksi pada proses tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi kerupuk bawang. Ditinjau dari aspek teknik juga dinilai layak karena output yang dihasilkan dengan menggunakan mesin potong yang baru lebih besar dari output menggunakan pisau konvensional.Output pisau konvensional = 60 Kg per hari dan mesin potong  kerupuk yang baru = 100 Kg per hari. Begitu juga dari aspek keuangan dinilai layak karena dengan mesin potong yang baru diperoleh NPV Rp. 514.604.751, IRR 65,88%, dan DPP 2 tahun 11 bulan. Penggantian  sarana produksi pada proses pemotongan layak karena jumlah penghasilan yang diperoleh lebih besar dibandingkan biaya untuk investasi program dengan ROI sebesar 1, 44.

PENDAHULUAN
Salah satu home industry yang saat ini terus berkembang dan persaingannya semakin ketat adalah home industry kerupuk, khususnya kerupuk bawang. Kerupuk bawang ini mempunyai keunikan yaitu adonan setengah matangnya yang kenyal dan sulit dipotong tipis-tipis, hasil potongan bisa bagus hanya dengan menggunakan slicer. UD. Kalirejo merupakan salah satu home industry yang hanya bisa menghasilkan 10 kg kerupuk bawang setiap harinya. Hal ini disebabkan proses pemotongan yang dilakukan di UD. Kalirejo masih menggunakan pisau tradisional sehingga memakan waktu lama. Kondisi ini menyebabkan output yang dihasilkan tidak bisa maksimal, biaya yang tinggi dan keuntungan yang dihasilkan juga tidak dapat maksimal.  Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan sarana produksi untuk peningkatan kapasitas produksi dan melakukan studi kelayakan dengan menganalisis aspek pasar, teknis, dan keuangan.

METODE
Tahapan penelitian dimulai dari melakukan studi kelayakan dari aspek pasar untuk mencari pasar potensial (PP) dan mencari pangsa pasar UD. Kalirejo. Penentuan pasar potensial bertujuan untuk memperoleh jumlah total kebutuhan pasar sasaran, sedangkan penentuan pangsa pasar UD. Kalirejo bertujuan untuk mengetahui sisa pasar potensial yang dapat menjadi peluang bagi UD. Kalirejo (Ibrahim, 1998). Selanjutnya memperbaiki proses produksi dengan dengan merancang mesin alternatif pemotong kerupuk yang baru. Berdasarkan usulan tersebut, melakukan studi kelayakan dari aspek teknik dengan menganalisa output yang dihasilkan dari mesin alternatif pemotong kerupuk dan pisau tangan konvensional dengan menggunakan metode time study (Wignyosoebroto, 1992

Setelah dilakukan studi kelayakan teknik maka dilanjutkan dengan studi kelayakan dari aspek ekonomi dengan membandingkan MARR dan IRR (Suad dan Suwarsono, 2000). Rate of Return merupakan tingkat perolehan dari suatu kegiatan ekonomi atau usaha yang digunakan untuk mengukur tingkat studi kelayakan suatu usaha. Ada beberapa rate of return yang dikenal, antara lain Internal Rate of Return (IRR), External Rate of Return (ERR) dan Explisit Reinvesment Rate of Return (ERRR). Dalam menganalisa kelayakan investasi proses yang sangat kecil kemungkinannya ada hubungan pihak luar perusahaan (misalnya: bank) dalam masalah pendanaan digunakan metode IRR. Metode IRR langsung mengambil perkiraan internal interest rate (i) dengan net cash flow yang umum atau memenuhi pada akhir umum proyek dan diinvestasikan kembali (dipinjamkan) diluar perusahaan. Umumnya semua cash outflow dihitung/dikonversikan ke periode 0 (awal proyek) juga pada bunga yang ditentukan (internal rate) sebesar i%. Sementara semua cash inflow dikonversikan ke periode n (akhir proyek) juga pada bunga sebesar i%. Selanjutnya dengan metode IRR akan ditentukan tingkat bunga (interest rate) di antara 2 jumlah equivalen dari cash outflow dan cash inflow yang memberikan tingkat bunga i% yang disebut sebagai IRR.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kapasitas UD. Kalirejo dengan Menggunakan Pisau Konvensional

Dalam proses produksi kerupuk di UD. Kalirejo, proses produksi yang paling lama dan membutuhkan banyak biaya adalah proses pemotongan dengan menggunakan pisau konvensional hal ini disebabkan karena adonan kerupuk yang setengah matang bersifat kenyal dan sulit dipotong tipis-tipis kecuali dengan menggunakan mesin slicer. Namun harga mesin slicer yang mahal sangat sulit untuk dijangkau oleh home industry kerupuk bawang. Berdasarkan waktu terlama maka output/hari UD. Kalirejo dengan menggunakan pisau konvensional adalah 60 kg per hari.

Peningkatan Kapasitas Produksi Kerupuk Bawang dengan Penggantian Sarana Produksi
Kapasitas pemotongan yang dimiliki alat pemotong krupuk diperoleh dengan memperhitungkan
putaran motor yang ada. Dengan menggunakan motor sebagai penggerak utama, maka akan diperoleh jumlah pemotongan dalam satu menit sebesar: 2 x 30 = 120 kali. Dalam satu jam diperoleh jumlah pemotongan sebesar: 60 x 60 = 3.600 kali. Jika dalam 1 kg kerupuk kering diasumsikan terdiri dari ± 200 potongan, maka kapasitas potong per jam adalah: (3.600/200) = 18 kg. Dengan menggunakan mesin potong yang baru maka kapasitas per hari UD. Kalirejo adalah 18 x 6 = 108 kg per hari. Jadi output kerupuk bawang dengan menggunakan pisau potong konvensional sebesar 60 Kg per hari dan output kerupuk bawang dengan menggunakan mesin potong kerupuk yang baru sebesar 100 Kg per hari karena kapasitas alat untuk memasak kerupuk hanya 100 Kg.

SIMPULAN
Berdasarkan aspek pasar, penggantian sarana produksi pada proses pemotongan di UD. Kalirejo dinilai layak karena dari data permintaan yang ada saat ini cenderung mengalami kenaikan yang signifikan. Berdasarkan aspek teknik, mesin potong kerupuk yang baru dinilai layak karena output yang dihasilkan dengan menggunakan mesin potong yang baru lebih besar dari output menggunakan pisau konvensional.

Senin, 24 November 2014

Perkembangan Teknologi dan Industri Otomotif di Indonesia


Teknologi otomotif berkembang sangat pesat. Dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan dan perubahan yang signifikan. Misalnya saja pada sistem pengapian kendaraan, mulai dari penggunaan platina, CDI, dan ECU yang lebih pintar hingga mampu mendeteksi karakter pengguna dan menyesuaikan segala kondisi sehingga didapatkan performa maksimal.


Selain itu teknologi bahan bakar yang digunakan juga mengalami perkembangan. Beberpa tahun yang lalu telah diluncurkan mobil bermesin hybrid yang lebih irit bahan bakar dan lebih ramah lingkungan. Mobil bermesin hybrid ini menggunakan listrik sebagai penggeraknya. Saat ini sedang dikembangkan mobil bertenaga angina, kendaraan ini benar-benar tidak menghasilkan emisi. Mobil bergerak dengan eknomemanfaatkan propulsi udara yang dimampatkan.

Tak mau ketinggalan kendaraan bermesin diesel pun juga mengalami perkembangan yang pesat. Mulai dari teknologi mesin hingga bahan bakar yang digunakan. Bahan bakar kendaraan diesel yang relatif lebih boros membuat bahan bakar alternatif  biosolar menjadi pilihan. Bahan bakar fosil merupakan energi yang tidak dapat diperbarui dan  keberadaanya mulai berkurang. Apabila penggunaan tidak dikurangi maka lama kelamaan akan habis. Salah satu cara mengatasi masalah ini dengan menggunakan energi alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti solar. Tumbuhan jarak sebagai bahan dasar pembuatan biosolar.

Teknologi otomotif yang selalu berkembang pesat menjadikan industri di sektor ini  menjadi salah satu   
industi yang menjanjikan. Namun  perkembangan industri otomotif di Indonesia masih tertinggal dengan negara lain, misalnya Thailand. Pemerintah sebagai operator utama dalam industri harus memiliki konsep yang jelas dalam pentahapan kemandirian industri otomotif nasional. Apabila pemerintah dengan serius membentuk kemadirian pada sektor industri  ini bukan hal yang mustahil Indonesia menjadi negara otomotif yang maju.

Menurut data Kemenperin, pertumbuhan industri otomotif tahun ini akan melebihi pertumbuhan tahun lalu yang diperkirakan dari sisi produks, industri mobil akan tumbuh 9 persen. Salah satu indikator geliat industri otomotif adalah jumlah pekerja di pabrik mobil yang meningkat.  Industri otomotif tahun ini masih menarik dan potensial. Walaupun kondisi ekonomi internal dan eksternal masih belum pulih namun penjualan tetap  meningkat dari tahun lalu.


Sumber :

Minggu, 16 November 2014

TTKI : Hindari Konslet Engine Control Unit (ECU) Pada Mobil

Pada saat musim hujan dan terjadi banjir di ruas - ruas jalan di Jakarta, seringkali para pemilik mobil memaksakan diri untuk menerjang banjir agar bisa segera sampai ke tujuan, tanpa memperhitungkan resiko  yang berpotensi merusak mesin mobil. Komponen mesin mobil yang sangat rentan terkena air saat menerjang banjir adalah Engine Control Unit (ECU). ECU merupakan " Otak " dari mesin mobil, bertugas me-manage mesin secara keseluruhan, baik itu mengatur pasokan bahan bakar , udara , pengapian dll. Dampak kerusakan komponen mobil seperti ECU bisa menguras kantong cukup dalam.

Jika mobil terkena banjir, sebaiknya mobil langsung ditarik atau didorong ke tempat yang kering. Selanjutnya ketahui posisi ECU, Jika memang posisi ECU sudah dimasuki air, lepas komponen komputer tersebut, lalu keringkan dan bersihkan dengan cairan Trichloroethylene. Hal tersebut untuk mencegah konsleting pada mobil.

Untuk mengetahui apakah ECU sudah kemasukan air atau belum bisa dikenali dari ciri berikut ini, yaitu dimana mobil masih mau menyala, akan tetapi setelah 2-3 hari, saat distarter kembali mulai terasa susah. Pasca terendam banjir sebaiknya mesin mobil jangan langsung dinyalakan karena sangat berbahaya, berpotensi terjadi konslet pada Engine Control Unit ( ECU ) yang mengakibatkan mobil terbakar.

Sumber: http://bengkelotomotifjakarta.blogspot.com/2013/04/hindari-konslet-engine-control-unit-ecu.html

TTKI : Mengenal Bio Diesel: Karakteristik, Produksi, hingga Performa Mesin

Viskositas
Viskositas merupakan sifat intrinsik fluida yang menunjukkan resistensi fluida terhadap aliran. Bila energi pengaliran yang tersedia tetap, maka fluida dengan viskositas tinggi akan mengalir dengan kecepatan lebih rendah. Hal inilah yang mendasari perlu dilakukannya proses kimia, transesterifikasi, untuk menurunkan harga viskositas minyak tumbuhan sehingga mendekati viskositas solar. Perbedaan viskositas antara minyak mentah/refined fatty oil dengan biodiesel juga bisa digunakan sebagai salah satu indikator dalam proses produksi biodiesel (Knothe, 2005).


Cloud point dan Pour point
Cloud point adalah temperatur pada saat bahan bakar mulai tampak “berawan” (cloudy). Hal ini timbul karena munculnya kristal-kristal (padatan) di dalam bahan bakar. Meski bahan bakar masih bisa mengalir pada titik ini, keberadaan kristal di dalam bahan bakar bisa mempengaruhi kelancaran aliran bahan bakar di dalam filter, pompa, dan injektor. Sedangkan pour point adalah temperatur terendah yang masih memungkinkan terjadinya aliran bahan bakar; di bawah pour point bahan bakar tidak lagi bisa mengalir karena terbentuknya kristal/gel yang menyumbat aliran bahan bakar. Dilihat dari definisinya, cloud point terjadi pada temperatur yang lebih tinggi dibandingkan dengan pour point.

Penyimpanan dan stabilitas
Biodiesel bisa mengalami degradasi bila disimpan dalam waktu yang lama disertai dengan kondisi tertentu. Degradasi biodiesel pada umumnya disebabkan oleh proses oksidasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi degradasi biodiesel antara lain keberadaan asam lemak tak jenuh, kondisi penyimpanan (tertutup/terbuka, temperatur, dsb.), unsur logam, dan peroksida. Leung dkk. (2006) menemukan bahwa temperatur tinggi (40oC) yang disertai dengan keberadaan udara terbuka menyebabkan degradasi yang sangat signifikan pada penyimpanan biodiesel hingga 50 minggu.


Efek Pelumasan Mesin
Sifat pelumasan yang inheren pada solar menjadi berkurang manakala dilakukan desulfurisasi (pengurangan kandungan solar) akibat tuntutan standard solar di berbagai negara. Berkurangnya sifat pelumasan bahan bakar bisa menimbulkan permasalahan pada sistem penyaluran bahan bakar, seperti pompa bahan bakar dan injektor (Knothe, 2005). Meski berkurangnya sifat pelumasan tersebut muncul akibat proses desulfurisasi, terdapat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa berkurangnya sifat pelumasan tersebut bukan akibat berkurangnya konsentrasi sulfur itu sendiri, namun karena berkurangnya komponen-komponen non-polar yang terikut dalam proses desulfurisasi (Knothe, 2005).
Penggunaan biodiesel sebagai aditif pelumasan pada solar berkadar sulfur rendah memiliki keuntungan dibandingkan dengan aditif lain, karena biodiesel sekaligus merupakan bahan bakar mesin diesel.

Sumber: ngenhttp://www.kamusilmiah.com/mesin/mengenal-biodiesel-karakteristik-produksi-hingga-performansi-mesin-3/

TTKI : Industri Otomotif Indonesia

Pemerintah, sebagai operator utama negara, harus memiliki konsep yang jelas dalam pentahapan kemandirian industri otomotif nasional. Tak pelak lompatan katak teknologi energi merupakan satu pilihan logis, yatiu:(1) Pada tahap awal, pemerintah perlu mendorong kalangan swasta nasional untuk menjadi pelaku utama penguasaan teknologi otomotif. Sebenarnya saat ini kalangan swasta Indonesia telah melakukan lompatan katak pertama berupa kerjasama dan lisensi. Texmaco merupakan satu contoh swasta nasional yang serius dalam penguasaan teknologi otomotif (truk).
(2) Pendayagunaan dan kerjasama yang terprogram antar sumber daya yang ada di berbagai lembaga riset pemerintah ataupun antara lembaga riset dengan kalangan swasta nasional guna penguasaan teknologi otomotif mutakhir. Hasil lain dari tahap ini diharapkan munculnya pemain-pemain baru-lokal yang berkualifikasi sebagai supplier otomotif nasional dan global.
 (3) Berhasilnya penguasaan teknologi serta bermunculannyaqualified local supplier akan memudahkan swasta nasional Indonesia mendirikan industri otomotif dalam negeri.
Menilik fasilitas dan kemampuan sumber daya di bidang teknologi yang dimiliki Indonesia saat ini, lompatan katak otomotif ini (seharusnya) tidaklah sesulit usaha putra-putri bangsa menguasai teknologi dirgantara. Kemauan yang kuat, sinergi, dan konsistensi dari seluruh komponen bangsa, merupakan kata kunci untuk mewujudkannya.

Sumber: http://www.kamusilmiah.com/mesin/industri-otomotif-nasional/

TTKI : Teknologi Mobil Terbaru Bertenaga Angin

www.AstroDigi.com


Boleh saja mobil bermesin hybrid mengklaim lebih irit bahan bakar dan lebih ramah lingkungan, tapi sebenarnya teknologi hybrid tak benar-benar ramah bagi bumi ini.
Kalau mobil bermesin hybrid masih mengaktifkan mesin konvensional berbahan bakar minyak fosil yang didukung oleh baterai, tapi untuk mobil bertenaga angin yang dikembangkan sebuah perusahaan di New York, AS, ini benar-benar tak menghasilkan emisi. Mobil bergerak dengan memanfaatkan propulsi udara yang dimampatkan.
Dikembangkan oleh seorang mantan insinyur di Formula Satu yang kini bekerja di European MDI Corporation, mobil angin ini sudah siap memasuki tahap pembuatan prototipe.
Setelah melakukan serangkaian kesepakatan yang diduga dilakukan bersama Tata Motors dan sejumlah produsen otomotif Jepang, MDI baru saja memberikan lisensi teknologi anyar itu kepada Zero Pollution Motors yang berbasis di New York. Perusahaan otomotif Amerika itu akan memproduksi mobil tenaga angin dengan kapasitas enam tempat duduk. Bahkan pabrikan mobil ini membidik pasar Amerika dengan target harga kurang dari US$ 18.000 untuk model perdana yang akan meluncur pada 2010 ini.

Menurut Technoride, Zero Pollution akan mengembangkan mobil tenaga angin yang mampu digenjot hingga kecepatan puncak 150 km/jam dengan daya jangkau sekitar 800 mil.

Sumber: http://galeriabiee.wordpress.com/dunia-otomotif/teknologi-mobil-terbaru-bertenaga-angin/

TTKI : Perkembangan Teknologi Otomotif

mobil antik
Teknologi otomotif dunia berkembang sangat pesat, mulai dari desain interior ekterior, system kelistrikan, system pengapian, konstruksi mesin dan lain sebagainya telah mengalami perkembangan dan perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada system pengapian motor misalnya dari mulai penggunaan platina, CDI, dan sekarang ECU yang lebih pintar hingga mampu mendeteksi karakter pengguna dan menyesuaikan segala seting yang diperlukan pada motor sesuai dengan karakter pengguna sehingga didapatkan performa maksimal.
Dengan pesatnya perkembangan otomotif dunia hingga saat ini mulai dilakukan riset penggunaan motor listrik pada kendaraan untuk menggantikan mesin konvensional yang selama ini telah menjadi sumber tenaga bagi kendaraan.
Sensasi mengendarai kendaraan listrik mungkin akan terasa berbeda disbanding sensasi mengendarai motor konvensional, motor listrik yang lebih senyap akan menciptakan Susana berkendara tersendiri tentunya dibanding motor konvensional yang meraung raung.
Indonesia pun sempat berusaha membangun mobil listrik yang 100% Indonesia. Proyek yang digagas oleh menteri BUMN saat itu yaitu Bapak Dahlan Iskan yang dibantu beberapa teknisi ahli berskala dunia. Dalam proyek ini Bapak Dahlan Iskan rela gaji nya sebagai menteri dipakai demi untuk pengembangan mobil listrik tersebut. Tetapi proyek ini pun akhirnya tidak jelas arahnya, hal ini tentu tidak lepas dari masalah kebijakan pemerintah yang kurang memberikan dukungan untuk pengembangan mobil listrik yang merupakan masalah non teknis dalam upaya pengembangan mobil listrik selain masalah masalah teknis lainnya. Hingga akhirnya salah satu teknisi ahli dalam upaya membangun 'mobil listrik 100% Indonesia' memutuskan Hengkang dari Indonesia karena merasa upaya nya dan impiannya untuk mengembangkan mobil listrik di Tanah Air tidak juga menunjukkan titik terang.

Sumber : http://capuraca.blogspot.com/2014/08/perkembangan-teknologi-otomotif.html

Sabtu, 18 Oktober 2014

Sejarah Industri Perak Kotagede


Perak berasal dari kata bahasa latin yaitu Argentum, dalam ilmu kimia memiliki lambang (Ag). Logam ini biasanya digunakan untuk membuat uang logam, perhiasan, sendok, dan biasa digunakan juga untuk mebuat bantalan mesin pesawat terbang.

Kotagede adalah kecamatan di tenggara Kota Yogyakarta. Kotagede merupakan sentra kerajinan perak yang sudah terkenal sejak jaman dulu. Menurut catatan Djoko Soekiman, sudah sejak abad ke-16 (masa kerajaan Mataram Islam) Kotagede muncul sebagai pusat perdagangan yang cukup maju, hal ini ditandai dengan sebutan lain untuk kotagede yaitu Sar Gede atau Pasar Gede yang dapat diartikan sebagai “pasar besar” (pusat perdagangan yang besar). Kerajinan perak Kotagede bermula dari kebiasaan para abdi dalem kriya Kotagede membuat barang-barang keperluan Kraton untuk memenuhi kebutuhan akan perhiasan atau perlengkapan lainnya bagi Raja dan Kraton serta kerabat-kerabatnya. Perkembangan perusahaan perak Kotagede mengalami masa keemasan antara tahun 1930—1940-an dengan munculnya perusahan-perusahaan baru, peningkatan kualitas, dan diciptakannya berbagai motif baru.

Pertumbuhan perusahaan pengrajin perak diawali dengan adanya pakaryan perak, istilah ini dimaksudkan sebagai usaha membuat barang-barang seni dari perak. Pada awalnya, semua barang tersebut dibuat tidak untuk diperdagangkan, hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun karena usaha kerajina itu mengalami perkembangan yang pesat terutama dengan adanya organisasi dan spesialisasi berupa perusahaan perak, maka kerajina perak selanjutnya dijadikan sebagai komoditas perdagangan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Meskipun begitu, perak Kotagede masih dikerjakan dengan cara yang sama, yaitu sebagai suatu bentuk kerajinan yang menuntut keterampilan tangan.

Saat ini di wilayah Kotagede memliki puluhan art shop perak yang tersebar di seluruh wilayah. Wisatawan tidak sekedar dapat memilih dan membeli souvenir, tetapi bisa menyaksikan proses pembuatannya. Proses produksinya diawali dengan peleburan perak murni berbentuk kristal, dicampur dengan tembaga. Kadar perak standar adalah 92,5%. Perak yang dilebur dan berbentuk cair dicetak untuk mendapatkan bentuk yang mendekati bentuk yang diinginkan, misalnya bentuk cincin. Proses kedua ini disebut singen (dicetak). Proses berikutnya ialah mengondel, yaitu memukul-mukul hasil cetakan untuk mendapatkan bentuk yang sesuai. Proses mengondel memerlukan tingkat ketrampilan tersendiri. Setelah terbentuk kemudian diukir untuk mendapatkan motif yang diinginkan. Proses ini memerlukan tingkat keahlian sangat tinggi.. Proses terakhir ialah finishing, yaitu membuat barang menjadi mengkilap.
Namun akhir-akhir ini, kerajinan perak Kotagede dirasakan mengalami penurunan. Terjadi kelesuan diantara para pembeli dan para pengrajin perak di Kotagede. Kerajinan perak yang semula dikerjakan sendiri oleh pengrajin Kotagede, ada beberapa yang dikerjakan diluar daerah karena minimnya regenerasi pengrajin di tingkat lokal. Masalah ini masih diperbincangkan diantara tokoh-tokoh masyarakat Kotagede, mereka memikirkan langkah kedepan bagaimana agar kerajinan hasil warisan selama ratusan tahun ini dapat bergairah kembali.


Sumber:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop